Mencintai atau Dicintai?
“Lan, gue mau nanya deh.”
“Tanya aja.”
“Lo lebih milih mencintai apa dicintai?”
“Gue? Kalo gue lebih milih untuk mencintai.”
“Kenapa? Bukannya kita ngerasa lebih berharga ya kalo dicintai sama seseorang? Bukannya itu yang bikin kita merasa spesial?”
“Gini ya, Nan, mungkin bagi sebagian orang mikir kayaknya lebih enak dicintai, karena pasti ngerasa dirinya ada di posisi atas. Cuma kalo menurut gue, mencintai itu…. adalah hal yang baik.”
“Kenapa?”
“Ya karena mencintai itu artinya kita ikhlas ngasih perasaan kasih sayang ke orang lain. Lo tau, gak? Perasaan yang dinamakan mencintai itu ngelatih gue untuk terbiasa memberi. Dan kalo lo ikhlas, itu jadi pembelajaran buat pendewasaan diri lo sendiri.”
“Tapi banyak orang yang kecewa saat mencintai orang lain, menurut lo gimana?”
“Nah kalo itu, menurut gue wajar wajar aja. Tuhan itu menciptakan banyak perasaan, Nan. To be honest, gue ngalamin perasaan itu juga. Perasaan kecewa saat orang yang kita cintai gak selalu sesuai sama keinginan kita. Ya tapi itu gapapa.”
“Tapi kalo gue, gue lebih milih untuk dicintai, Lan.”
“Ya bagus, tiap orang, kan, punya pendapat masing-masing. Gue juga tau kok rasanya dicintai, itu bikin lo ngerasa aman dan nyaman, kan? Cuma kalo selalu ingin dicintai juga gak baik sih, nanti lo-nya jadi egois.”
“Emang ya, Lan, paling bener tuh saling. Saling mencintai dan ngerasa saling dicintai.”
Pertanyaan yang tiba-tiba Nanda ajukan membuatku teringat pada sebuah cerita lama. Cerita yang sudah lama sekali selesai. Cerita yang membuatku selalu merasa bodoh karena sisa-sisa perasaannya masih membekas sampai saat ini.
Tapi aku tidak menyesal. Tidak pernah.
Ceritanya….sangat sederhana, tapi perasaannya yang rumit.
Aku jatuh cinta dengan seseorang tanpa sepengetahuan mereka, terhanyut dalam emosiku sendiri, dan memutuskannya di benakku.
Ada kalanya aku selalu mengelak pada diri sendiri ketika ingat bahwa ‘Saat itu aku hanya memperjuangkan apa yang harus diperjuangkan.’ Padahal waktu itu aku yang mungkin tidak ikhlas karena hanya aku yang mencintai.
Lalu muncul pertanyaan “Akan sampai kapan? Dan akan sampai bagaimana perasaanku? Bukankah akan lebih baik jika melepaskannya?”
Aku tertawa. Melepaskannya? Memangnya dia pernah aku miliki? Tentu saja tidak.
Namun, pada akhirnya aku harus menyerah, dan harus segera berpindah.
Tapi tentu tidaklah mudah untuk menyerah karena perasaan dan keinginan gak mudah untuk dihentikan begitu saja.
Apakah harus dengan orang yang baru? Tidak mungkin. Karena yang namanya move on ‘Tidak bisa diburu’ dan kedengarannya jahat sekali kalau harus cari pelampiasan. Maka dari itu aku akan membiarkannya hilang dengan perlahan. Membiarkan waktu yang menyelesaikannya untukku.
~~~~
Izinkan aku bercerita sedikit, ya.
Aku dulu sering berhayal menghabiskan hari-hari bersamamu. Bahkan sekalipun kita sedang berada di tengah kemacetan dan bisingnya klakson yang berbunyi disaat lampu baru saja berganti warna menjadi hijau. Menyebalkan, tapi mungkin akan tetap terasa nyaman jika bersamamu.
Tidak kusangka waktu berjalan begitu cepatnya sehingga hampir dua dasawarsa aku telah menikmati dunia yang kadang bagi sebagian orang tidak adil ini.
Kamu mungkin tidak ingat, dulu saat pelajaran Olahraga, saat kamu sedang memainkan raket bersama anak-anak yang lain, kamu tidak sengaja memukulkan raket ke kepalaku karena kebetulan saat itu aku sedang ada di belakangmu. Lalu dengan refleks kamu mengusap-usap kepalaku sambil bertanya “Eh, Lan, lo gapapa kan? Maaf gue gak sengaja.”
Tepat saat kamu bilang begitu, mataku melihatmu. Tapi kamu langsung pergi dan meninggalkanku untuk lanjut bermain. Sementara aku, aku hanya memandangmu dengan wajah yang……. Yang termenung, dan tentunya dengan perasaan aneh, tanpa bilang apa-apa, tanpa jawab apa-apa.
Mungkin cuma aku yang ingat, tapi hanya kenangan-kenangan kecil seperti itu yang aku punya.
Kenangan yang cuma bisa dirasakan lagi hanya oleh aku sendiri. Seperti bagaimana aku merindukanmu, bagaimana hanya dengan balasan pesanmu menyembukan segala suasana di hatiku, namun juga bisa jadi alasan patah hati.
Dan darimu aku tau bahwa pemeran utama sekalipun tidak mungkin selalu bertahan, akan ada waktunya dia digantikan dengan pemeran baru yang lain. Karena tidak mungkin selamanya bertahan dengan yang namanya kesedihan.
wait a sec, did u ever meet him since this letter up?
BalasHapus