Obsesi Paling Indah
Garut hari ini cukup redup. Aku sedang begitu nyaman duduk dan tertidur di bawah pohon yang rindang. Hutan dan angin itu terasa seperti begitu ramah akan kehadiranku, mempersilahkanku untuk menikmati setiap momen nostalgia yang terlintas di kepala.
Pada saat itulah isi kepalaku seringkali mendapat bahagianya meski tak jarang membuatku kembali terjerat pada kenang masa lalu. Membuatku semakin percaya bahwa pertemuan hanya selangkah mendekatkanku pada perpisahan.
Dulu aku sering berandai-andai untuk dapat menuliskan semua perasaan yang hidup dan menyampaikan semua pesan rahasia yang selalu kusimpan sendiri. Ingin sekali aku membagikan dan membuat Blog yang isinya tentang cerita perjalananku menemukan sosok yang selalu aku kagumi itu. Namun, apa daya, aku tidak begitu mahir dalam bercerita melalui tulisan. Begitu jari ini menari di atas keyboard, rasanya masih saja barisan kalimat yang terbentuk tidak begitu sempurna untuk menceritakan semuanya.
Aku teringat hari ketika kita pertama bertemu.
Matahari yang bersinar cukup terang pagi itu tidak membuatku mengalihkan pandangan dari buku yang sedang aku baca. Bahkan suara berisik teman-teman di kelas tidak pernah sekalipun jadi gangguan untukku.
Kemudian, ketika pertama kalinya seorang sosok baru muncul di hadapanku, sosok dengan mata sayu yang terlihat begitu tenang dan senyuman manis yang terpasang cocok di wajahnya datang, ada sesuatu yang rasanya menyentuh nurani.
Lelaki yang mengenakan seragam lama itu kemudian menyunggingkan senyum. Dan aku tak kuasa bila tak membalasanya. Dia yang sebetulnya orang asing. Namun, entah mengapa aku seolah sudah lama mengenalnya. Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya. Membiarkan diri ini begitu mudah jatuh dengan seseorang yang baru pertama kutemui. Isi kepala menuntut penjelasan, tapi hati tetap saja menikmati apa-apa yang masih begitu sulit diuraikan, termasuk perasaan atas pertemuan ini.
Lalu ia mulai bicara dan menperkenalkan dirinya di depan. Suaranya membuatku terpekur sejenak. Telingaku mendadak terkejut mengenali getaran yang entah tak bisa kusebut apa dan seperti apa rasanya.
Kepalaku sibuk menerjemahkan apa yang sebenarnya terjadi. Namun, saat semua rasa yang tak mampu aku sampaikan lewat diksi terbatas, saat semua ucapan dan barisan kalimat tak punya daya untuk bercerita, aku berada di titik akhir untuk berhenti mencoba memahami.
Aku berpikir mengapa Lana yang biasanya tak mudah terbuka dengan orang baru, kali ini justru bisa jatuh dengan mudah kepada lelaki bernama Pilar itu? Pertemuan pertama ini tak seharusnya aku hujani dengan diri yang begitu terbuka. Bagaimana jika tak ada kemungkinan untuk menciptakan kisah karena aku yang terlalu mudah dijangkau? Mengapa hanya dengan melihatnya seolah membuat jiwa terasa lebih hidup?
Sepanjang jam pelajaran berlangsung, aku berulang mengutuk diriku yang terlalu terkesima dengan lelaki bernama Pilar itu. Lelaki yang hanya kuketahui namanya saja tanpa sedikitpun kontak yang kumiliki. Berulang kali isi kepala ini berperang dengan isi hati, hingga yang tersisa hanya aku yang kelelahan menghadapinya.
Lamunanku terbuyarkan saat sebuah tangan menyenggol lenganku.
"Kenapa? Ganteng, kan?" tanya Maya.
"Enggak, b aja." Padahal aku berbohong.
Aku lekas kembali membaca buku dan berharap jam pelajaran ini segera berakhir hingga tak perlu lagi aku mencari tahu dan penasaran tentangnya, hingga tak harus lagi bertanya-tanya tentang Tuhan yang begitu memberiku banyak kejutan di hari pertama melihatnya.
Ya.. kamu obsesi paling indah.
Komentar
Posting Komentar