Kamu pernah, tapi aku masih.


Kalau diizinkan lagi bertemu kamu, aku berdo'a agar pertemuan selanjutnya tidak akan pernah jadi pertemuan yang memilukan seperti ini.


Sepanjang malam aku terus mempertanyakan bagaimana nasib hubunganku dengamu selanjutnya. Bagaimana semuanya akan berakhir kemudian. 


"Apakah kita memang tidak secocok itu? Atau apakah justru nantinya aku menyesal karena sudah merelakanmu dan membuatku kehilangan lagi?"


Segala keputusan dan pilihan yang aku ambil, ternyata melukaiku dan membuat diriku sendiri kecewa.

Aku tidak pernah bilang kalau merelakan itu sulit, hanya saja tidak mudah.


Yang membuatku sedih adalah kita sama-sama tau dan mengerti bagaimana keadaan dan perasaan kita saat ini, tapi kita sama-sama tidak mengatakannya.

Bahkan untuk mengucapkan kalimat perpisahan pun, sulit sekali.


"Beberapa cerita berakhir meski si aktor tidak merasa nyaman karena sudah terlanjur memulai. Namun, memang harus diakhiri." katamu, tiga jam setelah aku bilang bahwa cerita ini sangat memilukan. 


Air mata yang sedari tadi aku tahan, kini ku biarkan mengalir deras di pipiku. Aku memberanikan diri untuk membalas pesanmu dengan kalimat "Tapi.. memang sudah selesai bahkan sebelum diakhiri."


Aku menangis melihat keberanianku yang pada akhirnya mau datang padahal aku tidak ingin bilang begitu. 

Sejujurnya, aku takut. Aku takut akan jadi pengahalang jika aku bilang aku tidak mau semuanya berakhir.

Kamu berhak pergi dan berhak mencintai seseorang lagi disana. Di tempat yang kamu pilih untuk pulang.


Dan aku, aku akan tetap disini dan menjadikanmu sebagai tokoh kesukaanku. 

Karena mungkin kamu pernah menyukaiku, tapi aku masih menyayangimu. Dan akan selalu begitu.









Komentar

Postingan Populer