Bagian Akhir
Tanpa disadari, aku membuka draft lama itu. Isinya adalah pesan yang tidak pernah bisa aku sampaikan. Tepatnya, tidak berani aku kirimkan. Yang selalu membuatku ragu akan seperti apa reaksi yang kamu keluarkan, dan bagaimana perasaanku saat kamu menjawabnya.
Malam itu, di bus, sambil kembali membaca tulisan yang aku buat setiap kali perasaan aneh itu muncul, aku tersenyum kecil mengingat tingkah bodoh yang selalu aku lakukan ketika bertemu kamu di sekolah. Aku selalu merasa salah tingkah dan bahkan sangat kaku tiap melihatmu.
Kamu mungkin tidak tau--ah memang pasti tidak tau, sih, bahwa nama mu sudah sangat bosan didengar oleh teman-temanku dulu.
Berkali-kali mereka memintaku untuk menyatakan perasaan ini, sampai pada akhirnya aku memilih untuk menyerah.
Asal kamu tau, kalau saja aku berani untuk jujur, aku ingin bilang bahwa aku benar-benar tidak ingin ditinggalkan.
Lucu kedengarannya, melihat bagaimana hubungan antara kamu dan aku---yang sangat tidak dekat itu, bahkan belum pernah mengobrol, lalu tiba-tiba aku menaruh rasa dan menginginkan kamu untuk tidak pergi.
Dan lebih lucunya lagi, aku merasa sangat khawatir bahwa kamu disana akan menyukai seorang perempuan lain, seorang perempuan yang bukan aku pastinya dan memang sejak awal bukan aku. Seseorang yang menurutku akan sangat beruntung sekali karena akan kamu perlakukan seperti ratu.
Ah.. aku kacau sekali saat itu.
Setelah kurang lebih membaca tiga tulisan kecil yang aku buat, akhirnya aku sampai pada tulisan keempat. Tulisan yang isinya adalah puncak dari emosiku, puncak dari kesabaranku, dan kekesalanku pada diri sendiri karena ya, aku akui aku ini pengecut sekali. Aku sempat menulis ini langsung di roomchat dan berniat mengirimkannya, tapi tidak jadi. Ya karena aku tidak berani. Jadi akhirnya aku menyimpannya saja kalau-kalau nanti, setelah mungkin beberapa tahun kedepan, aku mau dan berani memberitahukannya.
Isinya begini :
"Bim, aku gak tau harus ngomong apa dan harus mulai dari mana. Aku tau mungkin setelah baca ini kamu akan sedikit terganggu dan mungkin bingung karena aku tiba-tiba bilang gini.
Jujur, selama aku kenal kamu, sejak kamu datang ke depan kelas ngenalin diri dan sampai sekarang, aku benar-benar dan sangat-sangat menyukaimu.
Entah kenapa, tapi kamu adalah satu-satunya laki-laki di kelas yang gak pernah berani aku ajak ngobrol dan ajak bercanda.
Aku selalu kagum saat lihat kamu menjelaskan sesuatu, dan saat ngeluarin jokes receh tapi anehnya itu bikin aku senang.
Mungkin karena dari awal aku sudah menjaga jarak sendiri dari kamu, karena saat itu kamu bersahabat dengan intan, seseorang yang tidak pernah kusukai sejak pertama kali masuk ke sekolah ini.
Kamu tau, Bim? Aku selalu cemburu tiap kali kamu main bareng dengan sahabatmu itu. Berbagi payung dengannya, pulang sekolah bersama, berbagi isi jawaban lks dengannya, bahkan naik rangking sama-sama.
Apalagi saat tau bahwa kamu sedang menyukai seseorang, aku kecewa sekali, tapi di sisi lain aku juga malu untuk bertanya. Akhirnya, tiap kali anak-anak sedang mengobrol aku jadi siap pasang telinga, kalau-kalau mereka menyebutkan beberapa kata tentang nama dan sifat dari orang yang kamu sukai itu.
Ge-er tidak, ya? kalau aku bilang aku merasa bahwa kamu menyukai juga? Tapi itu memang tidak mungkin, sih.
Jangan salahkan aku, semuanya tidak akan pernah sejauh ini kalau saja teman-teman tidak pernah mempengaruhiku.
Sejak pulang main dari rumah Sabrina, Maya bilang tatapanmu berbeda sekali saat aku memintamu untuk mengambilkan gelas minuman saat itu. Dia bilang kamu dan Intan saling melirik seperti mengirim kode bahwa kamu senang.
Ah, ya, dia juga bilang saat aku sedang presentasi di depan kamu selalu terlihat kagum, apalagi saat lomba debat antar kelas.
Perkataan Maya membuatku semakin goyah sampai akhirnya aku benar-benar menaruh hati sama kamu, Bim.
Dan saat kelas sebelas di semester dua, aku baru menyimpan nomor telfonmu. Ternyata, kamu menyimpan nomorku juga, ya...
Saat itu aku senang sekali. Kamu sering membalas status whatsapp yang aku buat, dan aku selalu berdebar melihatnya.
Aku merasa sangat bodoh saat akan menjawabmu. Seringnya aku menghapus pesan yang ingin ku kirim berkali-kali dan terus merubahnya. Sampai pada akhirnya, tetap balasan pesanku sangat sangat terlihat konyol. Haha. Maaf, ya..
Sebenarnya aku hanya ingin kamu tau dan membacanya. Setelah itu, sudah.
Terima kasih, ya, untuk tiga tahun mengenalmu,
Dari aku, yang selalu menyayangimu.
Sumedang, satu bulan setelah kelulusan.
Komentar
Posting Komentar