Alhamdulillah, Tamat.
Aku membacanya (lagi).
Yang paling sedih, memang yang paling bisa diingat.
Dengan singkat aku mengerti inti dari semua yang kamu
tuliskan disana.
Aku mengerti bahwa rasamu sudah mati. Dan aku tidak pernah
memintamu menghidupkannya kembali.
Andai saja aku tahu, tulisan yang aku buat sebelumnya
berakhir seperti ini, mungkin dari awal aku tidak akan membuatnya. Aku bahkan
tidak menyangka bahwa kamu akan membalasnya seperti itu. Bukan itu yang aku
butuh, andai saja kamu mau untuk mengerti, karena yang aku inginkan sedari awal
hanya menuliskan sesuatu yang selama ini tidak bisa aku katakan. Itu saja.
Tentang ketakutanmu yang lain, aku tidak paham bagaimana
bisa kamu bertanya perihal kekhawatiran sosok ‘dia’ jika nanti sosok Dia dan
dia akhirnya lost contact? Aku juga tidak paham saat kamu bilang semua yang sosok
‘dia’ harapkan bisa saja tidak akan terjadi sama sekali? Memangnya apa yang sosok
‘dia’ harapkan? Bukankah sejak sebelumnya sosok ‘dia’ merelakanmu?
Untuk permintaanmu mengenai draft itu, mungkin untuk
sekarang aku bisa terus menyimpannya. Namun, persis seperti yang kamu bilang,
aku tidak yakin dengan beberapa tahun berikutnya nanti.
Untuk semua rasa cemburu yang aku rasakan, semua tangis yang
pernah aku keluarkan, dan semua keingin tahuan yang pernah aku alami, aku tidak
pernah menyalahkanmu atas itu.
Aku juga tidak menuntut bahwa kamu harus memberi yakin
kepadaku karena aku tau kamu menaruh
hati pada yang lain dan hal itu juga membuatmu terluka.
Maaf, mungkin kelihatannya aku marah, tapi tidak begitu. Aku
hanya tidak ingin kamu mengartikan semua perkataanku dengan salah. Karena sejak
awal, inginku cuma menuliskannya saja, tanpa berharap apa-apa.
Dan untuk cerita ini, semuanya sudah selesai.
Komentar
Posting Komentar