Alasan Merelakan
Banyak pertanyaan yang muncul malam ini. Tentang kamu, tentang rasamu, dan masa lalu yang akan selalu jadi tanda tanya.
Bungkam. Aku bungkam saat melihat seuntai paragraf berhias
kata ‘Dia’.
Tulisan yang kubaca akhirnya menjelaskan semua rasa
penasaran yang sampai saat ini masih
menghantui pikiranku. Seberapa kali pun aku mencoba mengelak, tapi benar, sederet
huruf yang sudah menjadi kalimat itu
membuat hatiku langsung terasa sesak dan gemetar.
Segera setelah aku membacanya, aku menghubungi salah satu
teman baik yang sampai kini pun masih setia mendengar cerita tetang sosokmu.
Aku bertanya dengan hati penuh harap, “Maya, apa ini aku?”
Dia tidak langsung membalas, mungkin masih membaca beberapa
hasil screenshot yang aku kirim barusan.
Tidak lama setelah itu, jawaban yang dia beri membuat air
mataku langsung jatuh.
“Iya, itu kamu.” katanya.
“Lana, dia benar-benar membuat asumsinya sendiri. Dia
mencoba melupakanmu tapi sulit. Sama seperti kamu.”
Dengan air mata dan tangan yang masih bergetar, aku hanya diam
dan membaca pesan yang dia kirim padaku.
“Tapi, Lan, memang sepertinya bukan takdir. Agak melegakan
juga sebenarnya walaupun secara tidak langsung dia juga mengungkapkan. Yang
penting, kan, kamu tau perasaannya bagaimana. Dan jawaban yang kamu tunggu
selama ini sudah kamu dapatkan. Dia pernah, Lan. Dia pernah menyukaimu.”
Tangisanku semakin menjadi. Aku merasa bahwa kali ini
semuanya sudah benar-benar selesai. Padahal entah apa yang sudah
benar-benar selesai itu, karena sejak awal tidak ada apapun yang dimulai.
Baik aku, maupun kamu, semuanya hanya sebatas pernah.
“Iya. Akhirnya aku tau. Dia pernah. Dan pernah itu hanya
sebentar.”
“Tidak sebentar karena dia juga terpaksa melupakan.”
“Padahal dulu, aku tidak pernah berpikiran sampai kesana
seperti dia. Alasan dia diam sampai saat ini benar-benar membuatku terkejut.”
“Dia terlalu memegang prinsipnya, Lan.”
“Aku tidak pernah berpikir bahwa aku bisa menjadi toxic
untuknya. Aku juga tidak pernah berpikir bahwa dia akan jadi pesaingku seperti
yang dia bilang.”
“Karena dia tipikal laki-laki pemikir, Lan. Dan dia punya
target yang harus dia kejar.”
“Dan dia berhasil.” jawabku.
“Walapun dengan perasaan menyesal, tapi sudah lah. Life Goes
On. Kan sekarang kamu sudah tau bagaimana perasaannya. Lagian apalagi yang mau
diperbaiki. Lagipula sejak awal ini memang tentang keteguhannya.”
Percakapan kami berhenti sampai disana. Maya yang mungkin
harus segera mengerjakan tugas rumahnya lagi, dan aku yang masih termenung
mengingat semua kata yang aku baca tadi.
Apa kamu tau? Kalimat paling sedih yang pernah aku baca dari
tulisanmu, adalah jawaban dari hal yang sangat ingin aku ketahui. Dan itu
sangat… sangat sulit untuk aku terima. Seolah-olah dalam kalimat itu, kamu
melepaskanku.
Jika aku bertanya apa rasa itu akan hidup lagi, maka
jawabannya adalah ketidakyakinan darimu, dan satu hal yang aku percaya bahwa
saat seseorang ragu, maka tidak ada apapun yang bisa dilanjutkan. Kamu bilang
situasi dan keadaan kita sudah jauh, aku mengerti.
Aku juga pernah-ah, bukan- tapi sering ingin bilang bahwa
aku menyukaimu. Tentunya dengan dorongan dari banyak teman di sekitarku. Aku
juga takut, bahwa apa yang aku katakan nantinya akan membuatmu terganggu sampai
mungkin menjauh. Dan lihat, ternyata itu benar.
Jika kamu takut aku tidak percaya dan menganggap itu hanya sebuah
gurauan saat kamu bilang menyukaiku, maka kamu salah. Apapun yang kamu katakan,
aku selalu menganggap itu serius. Malah mungkin kelewat serius. Sampai-sampai
aku sering mengganggu teman-temanku cuma untuk bertanya jawaban seperti apa
yang harus aku berikan saat kamu menghubungiku, atau sekedar meminta trik modus
walaupun akhirnya aku tidak mau karena malu. Seistimewa itu. Bahkan, dua kata
saja yang kamu sampaikan, bisa membuatku berdebar sampai 30 menit, mungkin,
hahaha.
Tapi seperti biasa, aku akan selalu menyesal karena membalas
pesanmu. Bukan karena tidak suka, tapi karena aku tidak yakin pada apa yang aku katakan.
Hanya saja, di kalimat terakhir yang kamu tulis itu, kamu
memberikan ku sebuah ketidakyakinan. Sebuah jawaban yang sangat aku hargai.
Kamu ingin mengejar Cita, dan itu tidak bisa denganku. Kamu, memberiku alasan
untuk merelakan.
Komentar
Posting Komentar